Sape merupakan alat musik petik tradisional masyarakat Dayak yang dikenal karena melodi khasnya. Dalam ETNOSTATS-AR, Sape tidak hanya dipelajari sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai konteks pembelajaran statistika melalui analisis distribusi frekuensi data budaya.
Sape merupakan alat musik petik tradisional masyarakat Dayak yang umumnya dibuat dari kayu pilihan dan dimainkan untuk mengiringi tarian adat, upacara budaya, hiburan masyarakat, serta berbagai kegiatan kesenian tradisional.
Sape dikenal luas pada berbagai komunitas Dayak di Kalimantan, termasuk Kalimantan Barat. Instrumen ini menjadi salah satu simbol budaya yang mencerminkan kreativitas, identitas, dan nilai seni masyarakat Dayak.
Jenis lagu yang dimainkan menggunakan Sape dapat digunakan sebagai contoh data distribusi frekuensi dalam pembelajaran statistika. Peserta didik dapat membuat tabel frekuensi, diagram batang, menentukan modus, dan menginterpretasikan data budaya secara kontekstual.
Dalam etnostatistika, budaya dapat menjadi sumber data pembelajaran. Variasi jenis lagu yang dimainkan menggunakan Sape dapat digunakan untuk memahami konsep distribusi frekuensi dan penyajian data statistik.
Contoh data pembelajaran berikut digunakan untuk mengenalkan konsep distribusi frekuensi. Data tidak merepresentasikan hasil penelitian, melainkan contoh pembelajaran yang relevan dengan budaya musik tradisional Dayak.
Contoh data pembelajaran berikut digunakan untuk mempelajari distribusi frekuensi, persentase, diagram batang, dan modus.
| Jenis Lagu | Frekuensi | Persentase |
|---|---|---|
| Lagu Tradisional | 12 | 24% |
| Lagu Ritual | 8 | 16% |
| Lagu Hiburan | 15 | 30% |
| Lagu Penyambutan | 10 | 20% |
| Tari Adat | 5 | 10% |
| Total | 50 | 100% |
Visualisasi distribusi frekuensi jenis lagu yang dimainkan menggunakan alat musik Sape.
Analisis sederhana berdasarkan contoh data pembelajaran distribusi frekuensi.
Berdasarkan contoh data pembelajaran,
jenis lagu yang paling sering dimainkan
menggunakan Sape adalah Lagu Hiburan
dengan frekuensi sebanyak 15 kali
atau 30% dari keseluruhan data.
Jenis lagu dengan frekuensi terendah adalah
Tari Adat sebanyak 5 kali
atau 10%.
Melalui data ini peserta didik dapat
mempelajari cara menyusun tabel distribusi
frekuensi, menghitung persentase,
menentukan modus, dan menyajikan data
dalam bentuk diagram batang.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa budaya
lokal dapat digunakan sebagai sumber
kontekstual dalam pembelajaran statistika
melalui pendekatan etnostatistika.
Jelajahi berbagai warisan musik tradisional Kalimantan Barat yang dapat digunakan sebagai konteks pembelajaran etnostatistika.
Alat musik petik tradisional masyarakat Dayak yang digunakan sebagai media pembelajaran distribusi frekuensi, persentase, dan penyajian data.
Alat musik pukul tradisional yang dapat dimanfaatkan sebagai konteks pembelajaran frekuensi penggunaan dan penyajian data budaya.
Instrumen musik tradisional yang sering digunakan dalam berbagai kegiatan adat dan dapat dijadikan sumber data statistik budaya.
Melalui ETNOSTATS-AR, peserta didik dapat mempelajari budaya lokal Kalimantan Barat secara interaktif. Marker Sape dapat dipindai untuk menampilkan objek budaya, informasi edukatif, visualisasi statistik, dan materi pembelajaran berbasis Augmented Reality.